Model Pengembangan KEMP

 

MODEL PENGEMBANGAN KEMP

 


Dalam dunia pendidikan yang mana setiap tahunya terus berkembang, yang mempengaruhi kebutuhan pembelajaran yang sesuai dengan perkembnagan yang ada, yang mana selalu melakukan pencarian terus menerus dilakukan untuk menemukan atau menciptakan pendekatan yang lebih efektif dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan zamanya. Yang mana dengan perkembangan yang terjadi masalah yang muncuk dalam pendidikan pun bervariasi, Permasalahan demi permasalahan pendidikan di Indonesia dituai tiap tahunnya. Permasalahan pun muncul mulai dari aras input, proses, sampai output. Ketiga arah ini sejatinya saling terkait satu sama lain. Input mempengaruhi keberlanjutan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran pun turut mempengaruhi hasil output. Megawanti, P. (2015)., yang mana kejadian sederhana yang terjadi bisa dilihat saat ini diantaranya karakter siswa yang bermacam-macam yang membuat guru merasa sulit atau kebingungan untuk memulai pembelajaran dari mana sehingga berujung pada penugasan langsung yaitu siswa di minta mengerjakan soal-soal LKS atau buku paket, lalu banyak guru yang merasa kesulitan dan mengeluh dalam menggunakan media dan mendesain pembelajaran sehingga salah sasaran yang dapat mengakibatkan komptensi siswa tidak tercapai sesuai tujuan, (Rahmi, M. N., & Huda, I. W. (2022)).

Dari beberapa kejadian dan sasaran kegiatan pembelajaran menjadi salah satu alasan mengapa sdiperlukannya rancangan atau desain yang sesuai dan spesifik atau khas. Desain pembelajaran mengacu pada rancangan yang sistematik dan sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Berdasarkan hal di atas, penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran sangat memberikan kontribusi terhadap efektivitas penyampaian pembelajaran, sehingga untuk mencapai tujuan kurikulum sekolah, penting untuk mengembangkan desain pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar.Pentingnya hal ini tidak dapat diabaikan. Berkontribusi pada proses pembelajaran isi pelajaran. Oleh karena itu penulis menyediakan desain pembelajaran KEMP yang dapat digunakan pada satuan pendidikan pada jenjang manapun dan juga memfasilitasi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk membantu siswa mencapai kemampuannya sesuai dengan tujuan pembelajarannya

Model Pembelajaran Kemp dengan menggunakan pendekatan yang sistematis untuk pembelajaran yang Efektif. Model Pembelajaran Kemp, yang dikembangkan oleh Jerrold E. Kemp, merupakan kerangka kerja sistematis untuk merancang pengalaman belajar yang efektif. Model Kemp, kadang-kadang disebut sebagai Model Morrison, Ross dan Kemp, memiliki empat elemen desain yang merupakan bagian integral dari pengembangan kursus: siswa, tujuan, metode, dan evaluasi. Obizoba menjelaskan bahwa model desain instruksional Morrison, Ross dan Kemp berkisar pada empat komponen mendasar. Komponen ini meliputi:

a)      Pembelajar, fokus instruksional desain.

b)      Tujuan, yang menentukan apa yang harus dipelajari atau didemonstrasikan peserta didik.

c)      Metode, yang memastikan bagaimana isi kegiatan dapat dipelajari dengan baik, dan.

d)      Evaluasi, atau bagaimana menentukan sejauh mana tujuan tercapai.

 Model Kemp ini menekankan pengembangan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah pada peserta didik dengan menyesuaikan kebutuhan dan juga hambatan anak didik berkebutuhan khusus. menurut Obizoba terdapat 9 (sembilan) komponen penting dalam model yang dikembangan Kemp, et.al., (1994) sebagai berikut:

1)      Indentifikasi Masalah Pembelajaran (Instructional Problems). Proses merancang pembelajaran dimulai dengan mengidentifikasi masalah atau kebutuhan pembelajaran. Terdapat tiga pendekatan yang dapay digunakan oleh perancang pembelajaran untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran, yakni analisis kebutuhan, analisis tujuan, dan penilaian kinerja.

2)      Analisis Karakteristik Peserta Didik (Learner Characteristics). Karakteristik peserta didik penting diperhatikan dalam merancang pembelajaran.

3)      Analisis Tugas (Task Analysis). Analisis tugas merupakan langkah kritis dalam proses merancang pembelajaran. Terdapat tiga pertanyaan dalam analisis ini, yakni (1) apa yang perlu dilakukan peserta didik, (2) apa yang perlu diketahui peserta didik untuk dikerjakan, dan (3) Apa petunjuk (isyarat) bagi peserta didik bahwa terdapat masalah, langkah pengerjaan, atau langkah berbeda yang diperlukan.

4)      Menetapkan Tujuan Pembelajaran Khusus (Instructional Objectives). Tujuan pembelajaran ini memiliki tiga fungsi penting. Pertama memberikan arah bagi pendidik untuk merancang pembelajaran secara tepat, secara rinci untuk menyeleksi, dan mengorganisasikan aktivitas dan sumber pembelajaran yang akan memfasilitasi pembelajaran efektif. Kedua, Tujuan pembelajaran memberikan kerangka kerja untuk merencanakan evaluasi belajar peserta didik. Ketiga, tujuan pembelajaran memandu peserta didik dalam belajar. Peserta didik akan menggunakan tujuan pembelajaran untuk mengidentifikasi keterampilan dan pengetahuan yang harus mereka kuasai

5)      Mengorganisasi/Membuat Urutan Materi Pembelajaran (Content Sequencing). Pengorganisasian materi pembelajaran secara terurut dan sistematis akan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu cara umum yang digunakan untuk mengurutkan materi pembelajaran adalah metode prasyarat (Gagne, 1985), yang didasarkan pada hirarki belajar. Metode ini memerhatikan keterkaitan satu pengetahuan (atau keterampilan) dengan pengetahuan (atau keterampilan) lain. Dalam urutan pembelajaran, materi prasyarat dibelajarkan pertama,

6)      selanjutnya diikuti dengan materi berikutnya yang terkait dengan prasyarat tadi.Merancang Strategi Pembelajaran (Instructional Strategies). Keputusan rancangan pembelajaran dibuat pada dua tingkatan. Keputusan pertama merupakan strategi pengantaran (delivery strategy) yang menggambarkan lingkungan belajar general. Lingkungan belajar general merentang dari presentasi ceramah hingga pembelajaran dengan interaktif tinggi berbasis komputer. Keputusan kedua adalah strategi pembelajaran yang menggambarkan urutan dan metode pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan

7)      Menetapkan Metode Pembelajaran (Instructional Delivery Methods).Segera setelah strategi pembelajaran dirancang, perancang pembelajaran harus membuat keputusan bagaimana pengantar pembelajaran pada subjek sasaran. Ini berkaitan dengan metode apa yang harus digunakan. Pemilihan metode ditentukan oleh tujuan dan lingkungan pembelajaran. Sebagai contoh, bila kita ingin mengembangkan keterampilan interpersonal maka lebih tepat menggunakan metode-metode kelompok kecil (small-group methods).

8)      Mengembangkan Instrumen Evaluasi (Developing Evaluation Instruments). Tahap ini dikembangkan instrumen penilaian untuk mengukur apakah tujuan pembelajaran dapat dicapai. Tahap ini dimulai dengan menetapkan hasil belajar apa yang akan dinilai. Hasil belajar dapat diklasifikasi atas pengetahuan, keterampilan, dan perilaku atau sikap. Selanjutnya dikembangkan instrumen yang relevan untuk mengukur masing-masing hasil belajar tersebut.

9)      Memilih Sumber-Sumber Pembelajaran (Instructional Resources). Aktivitas pembelajaran akan lebih berhasil bila digunakan sumber-sumber pembelajaran yang tepat. Jika sumber-sumber dipilih dan dipersiapkan secara seksama, akan dapat memenuhi tujuan pembelajaran.

Kesembilan unsur rancangan pembelajaran atau desain inststruksional menurut model Kemp tersebut digambarkan dalam bentuk bulat telur Fadilah, R. N., (2024)  sebagai berikut:


   Novita L. (2021) menyatakan bahwa penggunakan model Kemp digunakan dalam Berdasarkan hasil pelaksanaan dalam pengembangan silabus dapat Pengembangan Silabus dan Kooperatif Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tipe time token type pada mata pelajaran pendidikan agama dan Karakter. Dan Novita L. (2021)  menyatakan bahwa penerapan model Kemp berpusat pada pengembangan bahan ajar silabus dan RPP dalam pembelajaran. Berikut adalah langkah-langkah penerapan model Kemp:

 

1)      menentukan tujuan secara umum yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran

2)      membuat analisis tentang karakteristik siswa. hal ini dimaksudkan untuk mengetahui latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa dalam mengikuti pembelajaran, serta mencari langkah-langkah yang sekiranya perlu diambil.

3)      menentukan tujuan intruksional secara spesifik, operasional, dan terukur. dalam hal ini guru dapat menyusun terhadap pemilihan materi/bahan ajar yang sesuai.

4)      menentukan materi/bahan ajar yang sesuai dengan tujuan intruksional khusus yang telah ditentukan atau dirumuskan.

5)      guru melakukan test awal pada siswa. hal ini betujuan untuk mengetahui dan mengukur tingkat kemampuan awal yang dimiliki siswa terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar yang akan dilakukan. dengan demikian, guru dapat mengetahui lebih awal kemampuan siswa.

6)      pemilihan strategi belajar mengajar, sumber belajar dan media pembelajaran yang tepat, efisien, ekonomis, praktis dan mudah didapat di sekitar.

7)      menentukan sarana dan prasarana sebagai faktor penunjang kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

8)      melakukan evaluasi. dalam hal ini, siswa diberi test berupa soal esay, maupun isian dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dan mengukur keefektivan metode/strategi yang telah digunakan.

 

Model Kemp berbeda dengan model-model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ilmuan pendidikan yang lain, model Kemp dibuat bergantung pada pembuat rencana. artinya dalam perencanaan kegiatan pembelajaran, boleh dimulai dari komponen mana saja. boleh dimulai dengan merencanakan pokok bahasan terlebih dahulu atau komponen yang lain.


Implementasi dari Pengembangan Model Kemp dalam pembelajaran di Sekolah dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dari hasil pengembangan model Kemp yang dibuat oleh guru. Dengan pendekatan pembelajaran dalam penerapan Model Kemp yang menekankan pada pembelajaran berbasis masalah dan pemecahan masalah. Ini fokus pada pembelajaran yang fokus pada keterampilan berpikir kritis dan kreatif, serta meningkatkan kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah yang kompleks. Implementasi  Model Kemp di Sekolah dapat dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang relevan dengan kurikulum sekolah. Guru harus memberikan pertanyaan yang dapat membantu siswa memahami masalah dan mengembangkan strategi untuk menyelesaikannya. Guru juga harus menyediakan bahan-bahan yang relevan untuk membantu siswa memecahkan masalah. Dengan pengembanagn model Kemp yang di terapkan, guru dapat membantu siswa memahami masalah dan mengembangkan strategi untuk menyelesaikannya. Dengan memberikan bimbingan dan dukungan yang tepat, guru dapat membantu siswa mencapai tujuan mereka.

 

Kesimpulan yang dapat di ambil setelah menganalisis tentang pengembangan model Kemp dalam pembelajaran dapat ditemukan bahwa model pembelajaran ini dapat digunakan secara fleksibel. Model Kemp dapat memulai dari sembilan tahapan tersebut secara simultan dan dapat digunakan dalam urutan apa pun. Ini lah yang membuat model ini lebih fleksibel dan lebih mudah digunakan. Model Kemp ini juga efektif digunakan oleh guru dan siswa dalam pengembangan bahan ajar bagi guru dan siswa.

 

 


DAFTAR RUJUKAN

 

Fadilah, R. N., Rahmadani, P., Indarto, A., & Chotimah, S. C. (2024). PENERAPAN DESAIN INSTRUKSIONAL MODEL KEMP BERBASIS KOOPERATIF LEARNING STAD PADA MATERI FUNGSI KOMPOSISI. Sindoro: Cendikia Pendidikan2(8), 1-10.

Megawanti, P. (2015). Meretas permasalahan pendidikan di Indonesia. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA2(3).

Novita Loma Sahertian, “Penerapan Model Pembelajaran Jerrold E Kem di SMP Hanuru,”

Jurnal Pendidikan Agama Kristen 1, no 2 (2021)

 

Rahmi, M. N., & Huda, I. W. A. U. (2022). Desain pembelajaran model Kemp dan implementasinya dengan teknik Jigsaw. INCARE, International Journal of Educational Resources3(2), 182-194.

Khatibah, K. (2011). Penelitian kepustakaan. Iqra': Jurnal Perpustakaan dan Informasi5(01), 36-39.

Cordelia Obizoba, “Instructional Design Models Framework for Innovative Teaching and Learning Methodologies,” International Journal of Higher Education Management (IJHEM) 2, no. 1

 

Komentar