PENGEMBANGAN PROBLEM SOLVING ANAK AUTIS DI
SLB MUHAMMADIYAH SIDAYU
Disusun oleh :
Wafi Rikhadatul Aisy 22010044039
Autism
Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf dan kelainan yang
terjadi pada bagian cerebellum yang dapat memengaruhi pemrosesan
sensorik-motorik, yang dapat meyebabkan faktor interaksi social, komunikasi
serta adanya keterbatasan minat dan pola perilaku berulang yang. Amelia, A.P.,
(2019) Gangguan yang mereka miliki juga berbeda-beda baik
sensorik maupun motorik mereka dari taraf yang ringan sampai dengan taraf yang
berat. Gejala autis ini pada umumnya muncul sebelum anak mencapai usia 3 tahun.
Sehingga dari permasalahan-permasalahan yang ada papada anak autis perlunya
untuk menyususn program yang tepat unruk mengurangi perilku atau kebiasaan yang
mengganggu kegiatan anak dan mengembangkan ebberapa aspek untuk menunjang
masadepan anak.
Berdasarkan studi lapangan yang dilakukan peneiti
mengambil satu orang berinisial (i) menjadi salah satu sempel di SLB Muhammadiyah Sidayu, yang menjadi contoh
objek yang menjadi salah satu informasi mengenai problem solving yang di miliki
anak, anak sendiri memiliki beberapa problematika atau gangguan maupun hambatan
yang perlunya untuk diberikan porgram yang tepat dan juga PPI yang tepat,
berikut penjelasan mengenai program dari PPI untuk problem solving anak pada
beberapa aspek.
a.
Komunikasi
Pada
aspek komunikasi (I) memiliki kebiasaan mengocehan tanpa arti berulang- ulang
dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain, dari kebiasaan anak dapat
mengganggu teman saat belajar maupun mengganggu anak dalam melaksanakan
kegiatanya. Oleh karena itu program dari PPI yang sesuai dengan permasalahan
anak yaitu dengan menerapkan metode social story juga dengan menggunakan Model pembelajaran penyingkapan/penemuan
(Discovery/Inquiry Learning). Dengan program ini anak di bimbing oleh guru
untuk membaca lalu bercerita pengalaman bersama, karena anak sangat excited
dalam bercerita mengenai pengelaman yang pernah di alaminya maupun cerita
menark lainya.
b.
Interaksi
Sosial
Selanjutnya pada aspek Interaksi Sosial anak (I)
memiliki hambatan pada interaksi sosial dikarenaka anak lebih suka bermain
sendiri dan anak mempunyai dunia sendiri pleh karena itu untuk mengembangan
permasalahan pada anak di butuhkan program pembelajaran individu (PPI). Untuk
mengembangkan interkasi anak dengan metode Role playing dalam Menggunakan Model
pembelajaran Difrensiasi. Dengan metode ini untuk meningktkan interksi sengan
teman sekitar dengan bermain peran dalam suatu cerita pendek yang di siapkan
oleh guru.
c.
Perilaku
Untuk perilaku
amak (I) anak memiliki hambatan pada kebiasaan hand flaping dan dan juga sifat
perfaksionis yang dimiliki, yang mana apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang
di harapkan anak, (I) tidak mau melanjutkan kembali kegiatan selanjutnya. yang
dapat menghambat kegiatan anak. oleh karena itu untuk dengan grogram PPI yaitu
dengan menggunakan metode Applied Behavior behavior Analysis analysis (ABA)
dalam penggunaan model pem belajaran langsung. Dengan penerapan ini mnegajarkan
anak untuk dapat menyusun jadwal sendiri juga melatih motorik halus anak salam
menempel kartu mencapt kartu dan juga mengajarkan anak untuk disiplin dalam
pengerjaan kegiatan. Dan apabila anak tidak mau melanjutkan kegiatan karena
hasil tidak sesuai beri mengertian dan penguatan positif, agar anak mau
melanjutkan tugas selanjutnya. Apabila anak melakukan kebiasaan handflapping
tegur anak ”ilun anak normal atau anak autis, kalau anak normal tidak melakukan
itu” maka anak akan dapat menghentikan kebiasaanya karena anak tidak suka apabila
di sebut anak autis.
d.
Motorik
Halus
Anak (I) memiliki hambatan pada aspek motorik yang
mana pada aspek ini anak memiliki hambatan pada aspek motorik halus yang mana
saat menggunting, dan menulis masih kaku dan tangan bergoyang-goyang
saatmelkukan kegiatan tersebut. yang menyebabkan hasilnya kurang rapi dan
tuisanya sulit untuk dibaca dan dipahami oleh kerana itu dengan progra
pembeajaran individu ini diharapkan dapat mengembangkan motorik halus anak dan mecapai tujuan yang
positif. Dengan penerapan metode Modeling, dan dalam penerapan demonstrasi
dalam Menggunakan Model pembelajaran langsung kepada peserta didik. Pembelajaran
langsung bertujuan untuk
memudahkan peserta didik
mempraktekan langsung kegiatan pembelajaran ini secara bertahap. Yang mana kegiatan untuk membuat slime menjadi salah satu metode yang
digunakan yang mana metode ini juga meningkatkan kreatifitas anak, bermain da
juga untuk meingkatkan motorik halus.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, A. P., Widodo, A., & Fis, S.
(2019). Pengaruh Neurosensori Reflex
Integration dan Applied Behavior Analysis
terhadap Peningkatan Sensoris
pada Anak Autism
Spectrum Disorder (ASD) (Doctoral
dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Komentar
Posting Komentar